Kemampuan untuk mengontrol komputer hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran adalah sesuatu yang mungkin dapat diwujudkan. Interface otak-komputer, dimana komputer dapat membaca dan menafsirkan sinyal langsung dari otak, telah mencapai keberhasilan klinis dalam masalah kelumpuhan, seperti mereka yang menderita "locked-in syndrome" atau orang-orang yang telah mengalami stroke untuk memindahkan kursi roda mereka sendiri atau bahkan minum kopi dari cangkir dengan mengendalikan aksi lengan robot dengan gelombang otak mereka. Selain itu, implan otak langsung telah membantu memulihkan penglihatan parsial untuk orang-orang yang telah kehilangan penglihatan mereka.

Penelitian terbaru telah difokuskan pada kemungkinan menggunakan antarmuka otak-komputer untuk menghubungkan otak yang berbeda bersama-sama secara langsung. Para peneliti di Duke University tahun lalu dilaporkan berhasil menghubungkan otak dua tikus melalui Internet (ke dalam apa yang disebut sebagai "net otak") di mana tikus di berbagai negara mampu bekerja sama untuk melakukan tugas-tugas sederhana. Juga pada tahun 2013, para ilmuwan di Harvard University melaporkan bahwa mereka mampu membangun hubungan fungsional antara otak tikus dan manusia dengan non-invasif, antarmuka komputer-ke-otak.

Proyek penelitian lain telah difokuskan pula untuk memanipulasi atau langsung menanamkan kenangan dari komputer ke dalam otak. Pada pertengahan 2013, para peneliti MIT melaporkan telah berhasil ditanamkan memori palsu ke dalam otak tikus. Pada manusia, kemampuan untuk secara langsung memanipulasi kenangan mungkin dapat dilakukan dalam pengobatan gangguan stres pasca-trauma, sedangkan dalam jangka panjang, informasi dapat di-upload ke dalam otak manusia dari file komputer. Tentu saja hal ini akan banyak berhadapan dengan masalah etika dan kodrat manusia.