Tiap tahun, menurut data World Health Organization, 1,24 juta orang meninggal dunia karena kecelakaan di jalan. Angka ini bisa meningkat jadi 2,4 juta di tahun 2030 kalau tak dilakukan tindakan yang tepat. Kemacetan juga menjadi masalah lain yang sangat merugikan.

Di Amerika Serikat, kerugian akibat kemacetan diestimasi bisa mencapai USD 100 miliar per tahunnya. Maka untuk mengantisipasi masalah ini, Ericsson mengungkap solusi baru bernama Connected Traffic Cloud di ajang Mobile World Congress 2015 yang turut dihadiri detikINET

Connected Traffic Cloud adalah platform manajemen cloud yang memungkinkan sharing trafik real time ataupun data kondisi jalan, antara mobil yang terkoneksi dan otoritas lalu lintas. Ya di masa depan, diprediksi semua mobil akan terkoneksi internet yang membawa beberapa manfaat seperti penerapan Connected Traffic Cloud ini.

"Ada semakin banyak connected cars di jalanan, jadi lebih banyak informasi berguna yang tersedia untuk otoritas," kata Stephanie Huf, Regional VP for Marketing and Public Affairs Ericsson.

Lebih lanjut, Stephanie memaparkan kalau Ericsson kini melebarkan sayap bisnis bukan semata di sektor telekomunikasi saja. Perusahaan asal Swedia ini menyasar 3 sektor bisnis baru yakni utiliy, transportasi dan keamanan publik. Solusi Connected Traffic Cloud termasuk dalam bisnis baru Ericsson tersebut.

Stephanie memaparkan kalau dengan solusi Connected Traffic Cloud, pengemudi bisa mendapat peringatan langsung dari otoritas jika ada gangguan jalan di jalur yang dilaluinya. Pengemudi akan disarankan untuk mengambil rute alternatif atau kalau situasinya tidak memungkinkan, memakai sarana tranportasi yang lain.

"Otoritas lalu lintas di berbagai belahan dunia menyambut baik solusi semacam ini. Tidak perlu untuk terlebih dahulu memiliki koneksi ngebut seperti 4G. Kami akan menentukan fungsionalitas mana yang sesuai untuk diterapkan terlebih dahulu," tambah Stephanie kepada detikINET.


Stephanie yakin solusi Connected Traffic Cloud akan diterima dengan baik oleh otoritas karena mereka punya kepentingan untuk membuat jalan lebih aman. Mereka punya anggaran yang ditujukan untuk menekan angka kecelakaan atau meminiminalisir kemacetan.

Stephanie tak memungkiri kalau solusi seperti Connected Traffic Cloud kemungkinan besar akan take off terlebih dahulu di negara-negara maju. Namun negara berkembang pun akan mengikutinya seiring visi networked society atau masyarakat terhubung yang digaungkan Ericsson. 

Connected Tracffic Cloud menurut Ericsson berpotensi meningkatkan secara signifikan kemampuan otoritas lalu lintas untuk menganalisis data real time dari mobil terkoneksi dan perangkat yang lain, tapi memang dengan syarat pemilik data mau memberikannya. 

Saat ini, otoritas hanya mengandalkan sedikit data dari sensor jalan atau kamera yang jumlahnya terbatas. Ke depan, data bisa berasal dari mobil terkoneksi, perangkat GPS sampai aplikasi navigasi di smartphone. 

Data tersebut dipakai untuk mengendalikan arus kendaraan dan juga misalnya nyala lampu lalu lintas. Data bisa dimanfaatkan pula untuk membantu pengendara menghindari kondisi jalan yang berbahaya.

Dengan Connected Traffic Cloud, Ericsson mengharapkan terciptanya ekosistem terbuka di mana data dari mobil yang terkoneksi bisa dibagikan untuk meningkatkan keamanan para pengemudi. 

"Semua mobil di masa depan itu akan terkoneksi," ucap Stephanie. Ericsson sendiri telah memiliki klien produsen mobil besar Volvo di mana mereka menjadi penyedia layanan cloud di kendaraan mereka.

Sumber : inet.detik.com